Sebut saja Utuh
dan Udin. Mereka sedang duduk-duduk santai di pinggir jalan sambil
memain-mainkan handphone.
Udin :
Tuh, lulusah ikam tes CPNS tahun ni ti?
Utuh : Kada tahu lagi nah. Mandadangarakan
habar urangai dahulu. Aku kada bisa pang bapisbukan kaya urang. Mandaftar haja samalam inta daftarakan sapupuku. Jadi, inta liatakan sapupu ai kaina pulang.
Udin : Baarti e-mail ikam tu diulahakan sapupu ikam jua lih?
Utuh :
Apa harus lawan Imilah samalam?
Udin : Astaga…! e-mail tu surat elektronik nang ada di internet. Lain Imil
baikungan.
Utuh : Ih...! Hanyar tahu aku nah.
Udin : Di mana garang ikam umpat?
Utuh : Di Barabai.
Udin : Akai.... Barabai lawas sdh pengumumannya. Ikam kada tahu jua ah balum. Mun kada bisa ba-facebook-an atau kada bisa malihat di website, datangi haja langsung ka Kantor BKD. Lihati di papan pengumumannya tuh.
Utuh : Mun kaya nitu aku handak ka sana ai nah. Asa kada tamasuk pang. Tapi, paling kada malihati siapa-siapa manusianya nang lulus.
Ilustrasi di
atas menggambarkan kepada kita seseorang yang gaptek alias gagap teknologi. Seharusnya lulusan-lulusan sekarang
sudah familiar dengan istilah-istilah internet seperti facebook, e-mail, website, dan lain-lain. Akan tetapi,
kenyataan yang ada menunjukkan masih ada sebagian orang yang belum mengetahui
istilah-istilah tersebut. Hal ini menunjukkan masih banyaknya orang yang belum
menguasai teknologi.
Ada beberapa hal
yang menyebabkan masih banyaknya orang yang gaptek.
Pertama, pembelajaran di
sekolah-sekolah di daerah kita, dari Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi,
masih banyak yang berpusat kepada pendidik (teacher
oriented). Pendidik belum mengoptimalkan peserta didik untuk menemukan
sendiri hal-hal yang berkaitan dengan materi yang dipelajari. Peserta didik hanya
menerima materi yang disampaikan pendidik tanpa mau menambah wawasannya melalui
sumber belajar yang lain. Seharusnya pendidik berusaha agar peserta didik aktif
mencari informasi-informasi yang berkaitan dengan materi yang sedang
dipelajari, baik melalui media cetak seperti majalah; tabloid; surat kabar; dan
buku-buku pengetahuan umum maupun media elektronik seperti radio; televisi, dan
internet. Pemberian tugas-tugas dalam pembelajaran yang mengaitkan dengan
teknologi ini dilakukan agar mereka terbiasa mengunakan dan memanfaatkan teknologi
dalam kehidupan sehari-hari. Kedua,
kurang tertarik pada pendidikan-pendidikan nonformal.
Sebagian orang di daerah kita masih banyak yang kurang tertarik pada
pendidikan-pendidikan nonformal, seperti kursus-kursus dan pelatihan-pelatihan.
Berkaitan dengan hal ini, kursus komputer. Memang, mungkin banyak yang
terkendala dengan biaya kursus yang cukup mahal. Akan tetapi, kita masih bisa
belajar komputer melalui buku-buku yang membahas tentang program-program
komputer, melalui video-video tutorial pembelajaran komputer menggunakan
internet, atau belajar komputer dengan teman yang menguasai komputer. Ketiga, keinginan belajar yang rendah.
Sebagian orang di daerah kita masih banyak yang sekolah hanya mengejar ijazah
dan gelar sehingga yang didapat berupa ijazah dan gelar itu saja. Sedikit
mendapatkan ilmu-ilmu dan keterampilan-ketrampilan yang mungkin belum
diperlukan saat masa-masa sekolah, tetapi sangat diperlukan setelah memasuki
dunia kerja. Keempat, sarana dan
prasarana yang kurang mendukung. Kurangnya sarana dan prasarana merupakan salah
satu faktor penghambat kita untuk menguasai teknologi. Tanpa adanya dukungan
sarana dan prasarana, sangat sulit untuk mengikuti perkembangan teknologi yang
semakin cepat ini.
Rekrutmen CPNS
tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Pendaftaran CPNS di Indonesia
tahun ini seluruhnya melalui internet (online
registration). Pengisian data diri diisi lewat internet. Selain
pendaftaran, tes CPNS pun akan dilaksanakan dengan sistem Computer Assistan Test (CAT) secara online di seluruh Indonesia. Penggunaan sistem CAT pada saat tes CPNS ini banyak berdampak positif. Pertama, meminimalisasi
kecurangan-kecurangan yang terjadi saat tes CPNS yang mungkin terjadi jika
dilaksanakan dengan menggunakan sistem Lembar Jawaban Komputer (LJK) seperti tahun
lalu. Kedua, penilaian peserta tes
CPNS lebih transparan dan dapat dipertanggungjawabkan di depan publik. Dengan
sistem CAT ini, peserta tes CPNS
dapat mengetahui skor mereka setelah tes CPNS selesai dilaksanakan. Ketiga, penggunaan sistem CAT ini juga diharapkan dapat
mengubah imej rekrutmen tes CPNS yang bebas dari korupsi, kolusi, dan nepotisme
(KKN).
Bagi orang-orang
yang menguasai teknologi, penggunaan sistem CAT pada saat tes CPNS ini tidak menjadi masalah. Lain halnya bagi orang-orang yang
gaptek. Pendaftaran CPNS adalah
masalah awal dari sekian masalah yang menanti. Peserta tes CPNS bisa kebakaran
jenggot mempersiapkan berkas-berkas pendaftaran hingga mengikuti tes CPNS sistem CAT. Melihat keadaan ini,
menjadi suatu keharusan bagi setiap peserta tes CPNS menguasai teknologi. Generasi
CPNS sekarang seharusnya generasi yang melek teknologi. Sangat disayangkan
seandainya masih ada CPNS yang masih gaptek.
Bisa dibayangkan, bagaimana ia melaksanakan tugas-tugasnya nantinya di zaman
yang modern ini. Memang kita sangat sulit untuk menguasai teknologi seutuhnya.
Akan tetapi, tidak ada kata terlambat untuk belajar. Minimal kita belajar agar
kita dapat mengikuti perkembangan teknologi sedikit demi sedikit. Dengan
demikian, kita dapat meningkatkan kemampuan diri kita. Jangan biarkan kemampuan
diri kita jauh tertinggal dari orang lain. Orang bisa, kenapa kita tidak. Mulailah
dari sekarang. Jangan tunggu esok, nanti, atau menunggu waktu luang. Karena
bisa jadi hari esok lebih canggih daripada hari ini. Kalau kita menunggu nanti,
bukannya selangkah ketertinggalan kita. Bisa jadi puluhan langkah kita
tertinggal. Semoga CPNS sekarang dapat mengikuti perkembangan teknologi dan
memanfaatkannya dalam hal-hal yang positif. Amin.
Mantap....
BalasHapusAwal yang bagus untuk terus maju.
Tetap semangat ngeblog.
Salam Blogger !